Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Aku kalah

Malam buta biar jadi saksi Gelapnya biar aku kawani untuk sesaat Dan dingin yang tak pernah terdekap biar aku rasakan untuk sekarang Rembulan kembali membuatku terbakar cemburu Angin malam dan pekat hitam langit membuatku kian hanyut dalam nada sendu Kamaku terpantok ruang Roman yang perlahan padam Bersama tresnamu yang perlahan menghilang Aku yang kalah oleh para upik ayu Melenggok tak sampaia Berjalan mengarahpun aku tersandung tersungkur Tuanku itu penyayang gadis-gadis Remeh melangkah Pindah haluan Sudah kebiasaan Aku, Aku malam ini Aku yang kembali tersayat angin penghianatan

Lebam

Bertutur namun membisu Tak kala parau mencekik untuk diam Aku tak sampai menggapai Lenganku tak sanggup menggenggam Lihatlah aku Pandang aku yang lebam Menyatu bersama kabut malam Kemarilah meringkuk dihadapku Bawa aku tenggelam pada irismu Dekaplah tubuhku yang nyaris ambruk Tak kala angin menyayat dengan sadar Sodorkan pundak kokohmu Akan aku sambut tanpa sungkan Biarkan aku bersangga malam ini Melampiaskan isak yang teguh Merengkuh dalam dada Sambutlah aku dalam rangkulan Membiarkan jarak gugur dalam pelukan

Pelancong cinta

Kedok cinta benar tipuan Diriku kembali tertikam Pelancong cinta Dirimu suka berkelana Kamu remeh pindah hati Hatiku runtuh di tinggal pergi

Satu purnama

Hanya satu purnama Sekilas terai asmara Tak akan menukas Hanya satu purnama Buntu waktu Habiskah renjana itu? Sebentar lagi Penghujung kita membeku

Ampas

Aku roboh Tersilih beranjak Takluk aku mundur Kau menampik tanpa menoleh Sendu aku merasa Tumbang aku sekarang Teraimu tak lagi aku rasa Sesak menjadi ampas tresna kita