Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Dusta

26oktober2019 Cemburu membakar janji Kata menjadi abu Musnah seperti debu Tekad hanya bualan makna Kita sepasang yang selalu berdusta Seribu mencari bukti Aku mati oleh kenyataan Kamu rapuh pada kebenaran Dan kita pula Terbunuh tanpa pisau Luka tanpa darah mana yang cepat pulih ? Terbunuh tanpa darah Mengerang dalam-dalam Mati dalam satu rasa Lelah pikul kenyataan Tanpa suara Yang menangis tanpa air mata Tanpa kita berbicara Aku dan kamu tau sikap mana yang berdusta

Gadis liar

26 Agustus 2019 Malang seribu malang Aku gadis yang liar Malang seribu malang Aku pelacur dalam percintaan Kembang latar Lalat hijau Mencari ruang Aku buntung pada kebenaran Menghamba kepada tali hati Aku lemah karena tertunduk Iya karena mengangguk Hukum rimba Aku kalah karena lemah Menurut harus terbiasa Menuntut itu budaya cinta Nafsu membunuh renjana Kekasih seperti pendayang Aku terjual, Dengan tubuh yang menjadi taruhan Tuan, Sahut tanyaku dengan akalmu Kau inginkan kekasih Atau pelacur pribadi? Kau tumbuhkan cinta berkedok nafsu Akupun begitu, Pergi karena nafsu untuk membunuh cintamu

Terasing

6 Juli 2019 Melekat hingga hampir terikat Kau menaruh beribu harap Aba-aba itu ada Yang menaruh minat pada rupa Namun peluk tak sampai Menggenggam terlepas Merangkul namun terbuang Aku hanya melihat Mengamat Dan juga terdiam sesaat Waktu tiap waktu Kamu dan aku Kita satu ikatan Bersama tidak menjanjikan Dalam tiap jalan setapak Ada jejak antara kamu Kamu yang bukan denganku Terjeda pada sepasang insan Bersama aku merasa terasing Tumbang karena keelokan Siapa aku? Jika gelar Adiwarna bukan aku Bukan membenci Aku hanya merasa  ... Merasa tak sebanding Aku tertunduk mendalam Dengan hal lalu Aku pupus tenggelam  Pada rasa timbiru yang membisu

Pemakan Bawang

10 Mei 2019 Menaruh kata hanya untuk menjadi sumbu Cipratan amarah untuk mengoyak kalbu Pembelaan seperti tungku Renyah oleh kobaran nafsu Telah aku basuh oleh sabar Kian menjadi dengan gusar Menghelan nafas penat Namun keadaan kian kusut Keras ingin menang Takut menjadi pecundang Mengalah takut kalah Keras justru menjadi penengah Puluhan kali kamu meruntuk Aku terisak pada garis kerelaan Tiap saat terkena semburan Letih membelai untuk bertekuk Tengok sebentar pelipur hati Bukan satu dua kali Aku tertampar oleh nasfi Bukan satu dua kali Terluka karena dihakimi Durjanamu abadi laraku Kebas sering sendu Tangisku tak menyadarkan Biar halau menjadi keruntuhan

Purnama April

30 April 2019 Di penghujung purnama Hanya tawar tersisa Dingin Menulang hingga tulang rusuk Terima kasih purnama april Mendung selalu menjadi selimut Hujan yang tak kunjung susut Aku kian ronggah Di papas tabah Semoga segera selesai Purnama april Kasihan ... Banyak mendung Selalu hujan Jarang bersinar Kasihan aku...

Cemburu

Kapur yang aku genggam ini perlahan menjadi belati

Bajingan

Jika setia pada seorang wanita itu menawan, mengapa kamu lebih suka di anggap bajingan karena banyak perempuan?

Puaka cinta

Sekata dahulu kamu tetap sosok itu Berdalih akan kamu beralih terbukti dengan aku yang menghisap jempol sendiri Ternyata sumpah kamu tak akan mengulang tak pernah aku tangkap Purnama berganti aku mengawasi Titik penjelasan tak kunjung menyapa mengerti Esok hingga warsa aku terus menonton tingkah langkah menampar iktikad hati Sumbu cemburu terbakar oleh bara lagumu Putus benang masih bisa aku sambung lagi Kamu yang menjadi tumpuan Tak ingin aku hancur oleh cabang kebusukan Jika penghujung nadir sudah menjelma rasa lelah Ancang-ancang aku siap menderas menarik diri Mengasing bersama rencehan bayangan Sosok sang puaka cinta

Dalang dan Wayang Maharani

Dalam ruang peraturan aku terasak bersama puluhan kata penguasaan. Sesak tiap helaan nafas tercekik untuk tak bersuara. Melebam-lebam melawan, namun semesta masih ingin aku di permainkan. Aku aktor wayang maharani. Permainan seorang dalang sang pelipur lara. Hidup bagaikan wayang melakonkan hasrat hati seorang dalang. Mencari ruang kebebasan. Apa daya aku terantai oleh sumpah abadi untuk berdua. Tuan dalangku hanya pencinta biasa. Terobsesi untuk tekun dalam mempertahankan. Namun dia terlalu kuat menggengam apa yang seharusnya tetap bertahan. Tak ingin hancur lebur begitu saja. Dalangku selalu merajut simpul baru. Tiap simpul yang menjadi pengikat dan aku yang tercekik dalam ikatan perjanjian. Lelahku perlahan menjadi amarah. Air mataku seperti pematik Akan semuanya. Kemudian lafalku berkata kata. Tak lama dia hancur bersama pedang yang menyamar sebagai umpatan sayang. Ingin egois aku menyimpang dari garis kodrat semestaku. Tiap kata aku lontarkan bagaikan pelu...

Aku kalah

Malam buta biar jadi saksi Gelapnya biar aku kawani untuk sesaat Dan dingin yang tak pernah terdekap biar aku rasakan untuk sekarang Rembulan kembali membuatku terbakar cemburu Angin malam dan pekat hitam langit membuatku kian hanyut dalam nada sendu Kamaku terpantok ruang Roman yang perlahan padam Bersama tresnamu yang perlahan menghilang Aku yang kalah oleh para upik ayu Melenggok tak sampaia Berjalan mengarahpun aku tersandung tersungkur Tuanku itu penyayang gadis-gadis Remeh melangkah Pindah haluan Sudah kebiasaan Aku, Aku malam ini Aku yang kembali tersayat angin penghianatan

Lebam

Bertutur namun membisu Tak kala parau mencekik untuk diam Aku tak sampai menggapai Lenganku tak sanggup menggenggam Lihatlah aku Pandang aku yang lebam Menyatu bersama kabut malam Kemarilah meringkuk dihadapku Bawa aku tenggelam pada irismu Dekaplah tubuhku yang nyaris ambruk Tak kala angin menyayat dengan sadar Sodorkan pundak kokohmu Akan aku sambut tanpa sungkan Biarkan aku bersangga malam ini Melampiaskan isak yang teguh Merengkuh dalam dada Sambutlah aku dalam rangkulan Membiarkan jarak gugur dalam pelukan

Pelancong cinta

Kedok cinta benar tipuan Diriku kembali tertikam Pelancong cinta Dirimu suka berkelana Kamu remeh pindah hati Hatiku runtuh di tinggal pergi

Satu purnama

Hanya satu purnama Sekilas terai asmara Tak akan menukas Hanya satu purnama Buntu waktu Habiskah renjana itu? Sebentar lagi Penghujung kita membeku

Ampas

Aku roboh Tersilih beranjak Takluk aku mundur Kau menampik tanpa menoleh Sendu aku merasa Tumbang aku sekarang Teraimu tak lagi aku rasa Sesak menjadi ampas tresna kita