Dalang dan Wayang Maharani
Dalam ruang peraturan aku terasak bersama puluhan kata penguasaan. Sesak tiap helaan nafas tercekik untuk tak bersuara. Melebam-lebam melawan, namun semesta masih ingin aku di permainkan. Aku aktor wayang maharani. Permainan seorang dalang sang pelipur lara. Hidup bagaikan wayang melakonkan hasrat hati seorang dalang. Mencari ruang kebebasan. Apa daya aku terantai oleh sumpah abadi untuk berdua. Tuan dalangku hanya pencinta biasa. Terobsesi untuk tekun dalam mempertahankan. Namun dia terlalu kuat menggengam apa yang seharusnya tetap bertahan. Tak ingin hancur lebur begitu saja. Dalangku selalu merajut simpul baru. Tiap simpul yang menjadi pengikat dan aku yang tercekik dalam ikatan perjanjian. Lelahku perlahan menjadi amarah. Air mataku seperti pematik Akan semuanya. Kemudian lafalku berkata kata. Tak lama dia hancur bersama pedang yang menyamar sebagai umpatan sayang. Ingin egois aku menyimpang dari garis kodrat semestaku. Tiap kata aku lontarkan bagaikan pelu...