Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2023

Racun

  Sorak ramai aku di sebut racun.  Memperdaya tuan tapi aku sendiri yang mati di tanganmu. Mereka menampik aku adalah seorang pembunuh. Nyatanya belati itu terpaku pada dadaku.  Merasa ganjil pada setiap umpatan. Tanpa tau lakonku, semestinya mulut itu tidak boleh bersuara. Kata-kata itu lebih baik kau kurung pada kepalamu. Daripada harus mengumpat lakonku.  Kalau racun itu ada, seharusnya aku telan sejak lama. Kalau racun itu memang ada biar aku yang menghilang selamanya.  Jika aku racun, mana mungkin aku bisa memberimu madu. Jika kau bukan racun, mengapa tuan bisa membunuhku? 

Seekor Burung

Hidup dengan sebuah kebebasan adalah keinginannya. Tanpa rumahpun sepertinya burung akan tetap hidup. Hinggap pada tiap-tiap bunga yang membuatnya penasaran. Lalu dia merusaknya. Setelah itu terbang kembali. Mana mungkin dia berlama-lama dengan satu bunga? Burung sangat suka kebebasan. Tanpa dinding peraturan. Tanpa ada kata larangan.  Hidupnya selalu ingin bebas. Sebagai bunga yang hanya menjadi tempat singgah mungkin tak apa. Tidak mungkin dia peduli. Burung hanya ingin terbang bebas. Bebas untuk memberi makan ego dia sendiri. Ego akan kebebasan. Ego akan jauh dari kekangan.  Kebebasan menurutnya mungkin adalah kemenangan.  Tetaplah terbang yang jauh dan tinggi. Jangan pernah hinggap atau menetap. Kau hanya perusak. Satu waktu makanlah sebuah kenyataan, kebebasan selalu bersama dengan kesunyian.