Postingan

Bunga

Setelah kepergian itu, kau datang kembali dengan senyuman yang sama. Hangat yang seperti semula. Bahkan kau membawa harapan yang ingin kau semai denganku. Pipiku terasa panas ketika terlihat segenggam bunga yang kau bawa. Ya aku sangat mendambakan bunga itu.  Namun di masa sekarang. Ketika aku memutar kembali memori tersebut, pipiku terasa panas kembali. Namun, irisku jua terpenuhi bulir air. Rupanya pahit tetap aku telan. Kau memetik bunga itu bersama wanita lain. Kemudian kau memberinya kepadaku.  Lantas perasaan apa yang seharusnya aku letupkan sekarang, tuan?

Angka

Angka demi angka terlewat jua. Tanpa terasa kian menyusut wujudnya. Ku kira setiap kita melewatinya, kita semakin kuat. Terbukti kita semakin rusak.  Tekadmu ingin kita pulih. Namun tuan, aku di batas kemampuan. Tiap air mata mengguyur batinku. Tak terasa aku mulai mati oleh perasaanmu.  Jika tak sejauh ini mungkin persimpangan itu masih bisa kita lalui. Dan jika tak sejauh ini mungkin akan sedikit air mata yang menghujani. 

Racun

  Sorak ramai aku di sebut racun.  Memperdaya tuan tapi aku sendiri yang mati di tanganmu. Mereka menampik aku adalah seorang pembunuh. Nyatanya belati itu terpaku pada dadaku.  Merasa ganjil pada setiap umpatan. Tanpa tau lakonku, semestinya mulut itu tidak boleh bersuara. Kata-kata itu lebih baik kau kurung pada kepalamu. Daripada harus mengumpat lakonku.  Kalau racun itu ada, seharusnya aku telan sejak lama. Kalau racun itu memang ada biar aku yang menghilang selamanya.  Jika aku racun, mana mungkin aku bisa memberimu madu. Jika kau bukan racun, mengapa tuan bisa membunuhku? 

Seekor Burung

Hidup dengan sebuah kebebasan adalah keinginannya. Tanpa rumahpun sepertinya burung akan tetap hidup. Hinggap pada tiap-tiap bunga yang membuatnya penasaran. Lalu dia merusaknya. Setelah itu terbang kembali. Mana mungkin dia berlama-lama dengan satu bunga? Burung sangat suka kebebasan. Tanpa dinding peraturan. Tanpa ada kata larangan.  Hidupnya selalu ingin bebas. Sebagai bunga yang hanya menjadi tempat singgah mungkin tak apa. Tidak mungkin dia peduli. Burung hanya ingin terbang bebas. Bebas untuk memberi makan ego dia sendiri. Ego akan kebebasan. Ego akan jauh dari kekangan.  Kebebasan menurutnya mungkin adalah kemenangan.  Tetaplah terbang yang jauh dan tinggi. Jangan pernah hinggap atau menetap. Kau hanya perusak. Satu waktu makanlah sebuah kenyataan, kebebasan selalu bersama dengan kesunyian. 

Sebentar lagi

  2 Oktober 2020 Selama ini terlalu banyak diam. Pada hal yang remeh, namun menjadi tameng yang menjadi beban. Tak memiliki banyak farsa yang menjadikan alasan tak berkata. Satu dua tiga hal masih terwajarkan. Selebihnya mengapa selalu bertambah? Bertambah sebab selalu di maklumkan. Lalu apa sekarang? Tak ada jalan. Persimpangan hanya bayang-bayang.Terjebak pada lorong. Kemana lagi? Pintu keluar hanya di ujung sana. Mengarah kepada retasan dari segala diam. Cemas meragukan. Kalang kabut. Pergi atau bertahan. Pergi maka siap bersuara. Diam harus diam-diam meronta. Bagiamana selanjutnya? Pikiran tak ada di titik jernih. Tak ada asa tenang. Selalu berfikir bagaimana sekarang, nanti dan bagaimana hati.  Setiap saat dia mengangguk. Setiap saat dia tunduk. Dan Setiap saat dia menurut. Tidak ada hal yg perlu di ucapkan meski hati dia memberontak. Hal yang dia ucapkan hanya nada sendu baginya, tapi bukan bagi orang lain. Nada sumbang selalu terdengar. Remehan kata selalu berserak dian...

Hilang

25 Juli 2020 Di balik dinding hitam Ada sendi kebenaran Muslihat burung biru Padahal unjuk rasa sendu Tumpahnya belepotan Tak patut di tunjukkan Omongan hanya umpatan Hati mulai akrab dengan pengakuan Raga tak ada asa Nyali tidak jantan Jari tegar merapal Seperti ingin di pandang lekat Namun terkubur di titik gelap Segan menyikap Tangguh bukan jawaban Diam tidak becus Maka gelap memberi titik tenang Menangispun tak ada yang tahu Sedih dan marahpun tak ada yang paham Aku hanya dapat tenang Lalu hilang dengan ketidakpedulian Kamu

Di persimpangan

25 Juni 2020 Silih menggambil langkah Benar atau salah Kembali atau meninggalkan Tidak berpegang Bergerak berlawanan Memalingkan wajah Melepas genggaman Merangkul tak pandang wajah Mana tau cara apik semesta Renjana yang kau temui- di persimpangan hati Hanya api yang meletup sementara  Lalu padam saat sadar Sementara pulang menjadi racauan Jalan yang dulu tak pernah hilang Jalan pulang selalu memegang Meskipun raga saling memusnahkan Tak ada titik usai  Penjuru petualangan kita Hanya dendam pematik segalanya Usaha untuk padam Jalan untuk kita pulang