Bunga

Setelah kepergian itu, kau datang kembali dengan senyuman yang sama. Hangat yang seperti semula. Bahkan kau membawa harapan yang ingin kau semai denganku.

Pipiku terasa panas ketika terlihat segenggam bunga yang kau bawa. Ya aku sangat mendambakan bunga itu. 

Namun di masa sekarang. Ketika aku memutar kembali memori tersebut, pipiku terasa panas kembali. Namun, irisku jua terpenuhi bulir air.

Rupanya pahit tetap aku telan. Kau memetik bunga itu bersama wanita lain. Kemudian kau memberinya kepadaku.  Lantas perasaan apa yang seharusnya aku letupkan sekarang, tuan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Angka

Ampas

Seekor Burung

Dalang dan Wayang Maharani

Racun

Puaka cinta

Gadis liar

Pemakan Bawang