Angka demi angka terlewat jua. Tanpa terasa kian menyusut wujudnya. Ku kira setiap kita melewatinya, kita semakin kuat. Terbukti kita semakin rusak. Tekadmu ingin kita pulih. Namun tuan, aku di batas kemampuan. Tiap air mata mengguyur batinku. Tak terasa aku mulai mati oleh perasaanmu. Jika tak sejauh ini mungkin persimpangan itu masih bisa kita lalui. Dan jika tak sejauh ini mungkin akan sedikit air mata yang menghujani.
Aku roboh Tersilih beranjak Takluk aku mundur Kau menampik tanpa menoleh Sendu aku merasa Tumbang aku sekarang Teraimu tak lagi aku rasa Sesak menjadi ampas tresna kita
Hidup dengan sebuah kebebasan adalah keinginannya. Tanpa rumahpun sepertinya burung akan tetap hidup. Hinggap pada tiap-tiap bunga yang membuatnya penasaran. Lalu dia merusaknya. Setelah itu terbang kembali. Mana mungkin dia berlama-lama dengan satu bunga? Burung sangat suka kebebasan. Tanpa dinding peraturan. Tanpa ada kata larangan. Hidupnya selalu ingin bebas. Sebagai bunga yang hanya menjadi tempat singgah mungkin tak apa. Tidak mungkin dia peduli. Burung hanya ingin terbang bebas. Bebas untuk memberi makan ego dia sendiri. Ego akan kebebasan. Ego akan jauh dari kekangan. Kebebasan menurutnya mungkin adalah kemenangan. Tetaplah terbang yang jauh dan tinggi. Jangan pernah hinggap atau menetap. Kau hanya perusak. Satu waktu makanlah sebuah kenyataan, kebebasan selalu bersama dengan kesunyian.
Dalam ruang peraturan aku terasak bersama puluhan kata penguasaan. Sesak tiap helaan nafas tercekik untuk tak bersuara. Melebam-lebam melawan, namun semesta masih ingin aku di permainkan. Aku aktor wayang maharani. Permainan seorang dalang sang pelipur lara. Hidup bagaikan wayang melakonkan hasrat hati seorang dalang. Mencari ruang kebebasan. Apa daya aku terantai oleh sumpah abadi untuk berdua. Tuan dalangku hanya pencinta biasa. Terobsesi untuk tekun dalam mempertahankan. Namun dia terlalu kuat menggengam apa yang seharusnya tetap bertahan. Tak ingin hancur lebur begitu saja. Dalangku selalu merajut simpul baru. Tiap simpul yang menjadi pengikat dan aku yang tercekik dalam ikatan perjanjian. Lelahku perlahan menjadi amarah. Air mataku seperti pematik Akan semuanya. Kemudian lafalku berkata kata. Tak lama dia hancur bersama pedang yang menyamar sebagai umpatan sayang. Ingin egois aku menyimpang dari garis kodrat semestaku. Tiap kata aku lontarkan bagaikan pelu...
Sorak ramai aku di sebut racun. Memperdaya tuan tapi aku sendiri yang mati di tanganmu. Mereka menampik aku adalah seorang pembunuh. Nyatanya belati itu terpaku pada dadaku. Merasa ganjil pada setiap umpatan. Tanpa tau lakonku, semestinya mulut itu tidak boleh bersuara. Kata-kata itu lebih baik kau kurung pada kepalamu. Daripada harus mengumpat lakonku. Kalau racun itu ada, seharusnya aku telan sejak lama. Kalau racun itu memang ada biar aku yang menghilang selamanya. Jika aku racun, mana mungkin aku bisa memberimu madu. Jika kau bukan racun, mengapa tuan bisa membunuhku?
Sekata dahulu kamu tetap sosok itu Berdalih akan kamu beralih terbukti dengan aku yang menghisap jempol sendiri Ternyata sumpah kamu tak akan mengulang tak pernah aku tangkap Purnama berganti aku mengawasi Titik penjelasan tak kunjung menyapa mengerti Esok hingga warsa aku terus menonton tingkah langkah menampar iktikad hati Sumbu cemburu terbakar oleh bara lagumu Putus benang masih bisa aku sambung lagi Kamu yang menjadi tumpuan Tak ingin aku hancur oleh cabang kebusukan Jika penghujung nadir sudah menjelma rasa lelah Ancang-ancang aku siap menderas menarik diri Mengasing bersama rencehan bayangan Sosok sang puaka cinta
26 Agustus 2019 Malang seribu malang Aku gadis yang liar Malang seribu malang Aku pelacur dalam percintaan Kembang latar Lalat hijau Mencari ruang Aku buntung pada kebenaran Menghamba kepada tali hati Aku lemah karena tertunduk Iya karena mengangguk Hukum rimba Aku kalah karena lemah Menurut harus terbiasa Menuntut itu budaya cinta Nafsu membunuh renjana Kekasih seperti pendayang Aku terjual, Dengan tubuh yang menjadi taruhan Tuan, Sahut tanyaku dengan akalmu Kau inginkan kekasih Atau pelacur pribadi? Kau tumbuhkan cinta berkedok nafsu Akupun begitu, Pergi karena nafsu untuk membunuh cintamu
10 Mei 2019 Menaruh kata hanya untuk menjadi sumbu Cipratan amarah untuk mengoyak kalbu Pembelaan seperti tungku Renyah oleh kobaran nafsu Telah aku basuh oleh sabar Kian menjadi dengan gusar Menghelan nafas penat Namun keadaan kian kusut Keras ingin menang Takut menjadi pecundang Mengalah takut kalah Keras justru menjadi penengah Puluhan kali kamu meruntuk Aku terisak pada garis kerelaan Tiap saat terkena semburan Letih membelai untuk bertekuk Tengok sebentar pelipur hati Bukan satu dua kali Aku tertampar oleh nasfi Bukan satu dua kali Terluka karena dihakimi Durjanamu abadi laraku Kebas sering sendu Tangisku tak menyadarkan Biar halau menjadi keruntuhan
Komentar
Posting Komentar