Dalang dan Wayang Maharani




Dalam ruang peraturan aku terasak bersama puluhan kata penguasaan. Sesak tiap helaan nafas tercekik untuk tak bersuara. Melebam-lebam melawan, namun semesta masih ingin aku di permainkan.

Aku aktor wayang maharani. Permainan seorang dalang sang pelipur lara.
Hidup bagaikan wayang melakonkan hasrat hati seorang dalang. Mencari ruang kebebasan. Apa daya aku terantai oleh sumpah abadi untuk berdua.

Tuan dalangku hanya pencinta biasa. Terobsesi untuk tekun dalam mempertahankan. Namun dia terlalu kuat menggengam apa yang seharusnya tetap bertahan.

Tak ingin hancur lebur begitu saja. Dalangku selalu merajut simpul baru. Tiap simpul yang menjadi pengikat dan aku yang tercekik dalam ikatan perjanjian.

Lelahku perlahan menjadi amarah. Air mataku seperti pematik Akan semuanya.
Kemudian lafalku berkata kata.
Tak lama dia hancur bersama pedang yang menyamar sebagai umpatan sayang. Ingin egois aku menyimpang dari garis kodrat semestaku. Tiap kata aku lontarkan bagaikan peluru yang akrab dengan sasaran.

Dalangku hanya diam. Peluruku habis menjejal pada dirinya. Namun, peluruku belum sampai untuk merobek pikirannya. Membunuh pikiran untuk selalu memperdaya sang wayang maharani.

Dalangku tak pernah menyerah. Dia kuat untuk berkata "ingin" dan wayang maharani terlalu pasrah pada semua ketetapan sang dalang.

Bertindak tanduk sesuai apa kemauan dalang. Wayang maharani  tak ingin tercambuk oleh perkataan menikam. Diam-diam batinku mengaduh lelah. Menelan kasar kata-kata nafsu dalang. Apa aku yang sepatutnya tak menjadi wayang marahrani?

Pertunjukan belum usai lakonku belum juga berakhir. Dalangku masih berkuasa atas aku sang Wayang Maharani. Tuntutan tak kenal makna titik. Bahkan untuk berhenti sejenakpun rasanya aku tak dapat mengenyam di tengah lakonku.

Dalangku terlalu keras dan aku terlalu lemah. Lemahku seperti akrab untuk di injak dan kerasmu seperti ingin selalu di agungkan. Barangkali sabarku akan panjang. Kecuali setelah aku potong ego dalam mewujudkan "ingin" dirimu semata.
Pahamku biar menjalar. Lakonku mungkin tergaris semesta menjadi sang wayang maharani. Dalangku berkuat "ingin"  biar aku tundukan dengan apa yang aku bisa.

Dengan beribu ribu "ingin" sang dalang..
Wayang maharani hanya memiliki "satu ingin"

Moga kuat nafsumu luluh pada tiap waktu, purnama atau warsa. Tak usah menjerat pada tiap ucapan.  Jika matiku bersama penghianatan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Angka

Ampas

Seekor Burung

Racun

Puaka cinta

Gadis liar

Pemakan Bawang