Sebentar lagi
2 Oktober 2020
Selama ini terlalu banyak diam. Pada hal yang remeh, namun menjadi tameng yang menjadi beban. Tak memiliki banyak farsa yang menjadikan alasan tak berkata. Satu dua tiga hal masih terwajarkan. Selebihnya mengapa selalu bertambah? Bertambah sebab selalu di maklumkan.
Lalu apa sekarang? Tak ada jalan. Persimpangan hanya bayang-bayang.Terjebak pada lorong. Kemana lagi? Pintu keluar hanya di ujung sana. Mengarah kepada retasan dari segala diam.
Cemas meragukan. Kalang kabut. Pergi atau bertahan. Pergi maka siap bersuara. Diam harus diam-diam meronta. Bagiamana selanjutnya? Pikiran tak ada di titik jernih.
Tak ada asa tenang. Selalu berfikir bagaimana sekarang, nanti dan bagaimana hati.
Setiap saat dia mengangguk. Setiap saat dia tunduk. Dan Setiap saat dia menurut. Tidak ada hal yg perlu di ucapkan meski hati dia memberontak. Hal yang dia ucapkan hanya nada sendu baginya, tapi bukan bagi orang lain.
Nada sumbang selalu terdengar.
Remehan kata selalu berserak diantara banyak keluhan. Diam-diam dia mengais tiap kata yang terbuang. Menggaduh tiap pungutan. Sampai purnama dua belaspun keluhan tak pernah berada di titik berarti.
Asa iba pada diri sendiri. Seperti teracuhkan oleh kehendak itu sudah naif.
"Sebentar lagi" Katanya.
Sebentar lagi, rengkah akan menjelang. Jika sampai purnama dua belas diri selalu terpojok oleh kehendak tuan.
Komentar
Posting Komentar