Bunga Angin


03Desember2018



Berlari membelah jarak. Tiap inci jalanan mampu aku kikis. Tubuh seolah menyatu dengan bunga angin. Sinar mentari menyengat layaknya sengatan lebah, namun tetap aku nikmati. Tersandung aku tak goyah. Terjatuh aku bangkit. Kerikil menghalangi akan aku lampaui.

Nafas tersengal. Detak jantung tak berirama. Jantungku seperti ingin lari lalu melompat keluar.

Memicingkan mata menatap ke depan. Irisku menangkap sosok dirimu. Dirimu yang sedang bertumpu pada kaki menyendiri. Kembali lagi irama jantungku tak beraturan. Langkah memapah maju melangkah. Aku berjalan pelan menghampiri. Aku mendekat mengikis jarak kembali.

Karena Cendrawasih merak emas dilepas. Kau merangkul gadis lain. Lalu aku dipukul oleh harapan. Semua lelahku mengguyur tubuh ini. Langkah terhenti. Mencoba menguatkan diri sendiri. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Menghilangkan rasa sesak di hati.

Ingin rasanya aku berlari terhadap kenyataan yang terlalu menghunjam. Meneriaki semesta bahwa aku tak pantas jika harus merasakan kesialan cinta. Menghentikan sang waktu untuk menghilangkan bagian terpahit. Berharap ini semua mimpi buruk namun, hal ini adalah sesuatu mutlak yang membuatku terhempas.

Senyum manis dirimu yang seharusnya untukku, namun terbit kepada yang lain. Tawa jenaka kamu yang harusnya menghiburku, namun sekarang menghibur wanita lain. Tatapan lembut kamu yang harusnya hanya menatap irisku, namun sekarang terganti yang lain. Dan genggamanmu yang seharusnya menuntunku namun pergi bersama sosok lain.

Biar aku mengukir senyum getirku sendiri. Menggenggam bunga angin agar aku tidak sendirian lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Angka

Ampas

Seekor Burung

Dalang dan Wayang Maharani

Racun

Puaka cinta

Gadis liar

Pemakan Bawang