Gadis Buruk Rupa


Si gadis buruk rupa yang tak mempunyai cermin. Merasa paling sempurna padahal ia renggang dari tutur sempurna. Hendak menjumpai pangeran, namun terhalang oleh penduduk desa dan para pengawal istana. Hendak bersanding dengan pangeran, namun tak sebanding dengan gadis-gadis pangeran.

Si buruk rupa yang tak mempunyai cermin. Tak pernah paham bahwa pangeran sepantasnya bersama gadis bangsawan. Namun, tetap saja lengannya masih memenggal sepenggal harap tentang pangeran.

Si buruk rupa menapaki jalanan menuju istana. Terus berjalan mencari pangeran tak sadar tiap langkah aku menapaki jalan juga duri jalanan. Bercura darah tetap saja aku hiraukan. Berharap menemukan pangeran setelah ini.

Si buruk rupa yang membopong rindu. Aku membawakan rindu wahai pangeran. Rinduku yang menumpuk tentang pangeran. Maaf rinduku terlalu banyak. Maaf rinduku berantakan dan maaf rinduku selalu tentang pangeran.

Si buruk rupa yang ingin menjadi bagian dari hidup dan mimpi pangeran.
Biar aku menjadi tokoh yang paling berharga. Aku ingin menjadi kepingan dari mimpi pangeran. Menjadi pengisi ruang hampa agar terisi. Menjadi tokoh utama agar kita bisa berdansa dan menari.

Aku si buruk rupa yang tak mempunyai cermin. Namun, sepenggal harapan tak pernah aku lepas. Dan sebanyak rasa rindu yang tak pernah surut. Karena takdir bersamaku. Dia ingin kita bersatu. Bukan terpisah menjadi budak sang jarak yang hanya menjadi uluran waktu.

Jadi, pangeran akan menghampiriku atau aku si gadis buruk rupa yang mendekatimu?
Namun, ternyata pangeran hanya diam membisu.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Angka

Ampas

Seekor Burung

Dalang dan Wayang Maharani

Racun

Puaka cinta

Gadis liar

Pemakan Bawang